Anak-anak di Gelugur Harus "Berkubang Lumpur" untuk Bisa Ikut Belajar Online Karena Sulitnya Mendapatkan Jaringan Internet

Pernahkah kita bayangkan disaat banyak anak sekolah dan mahasiswa bergembira dengan belajar dirumah ?, mereka akan banyak waktu dirumah sambil bermain internet, tapi itu hanya dinikmati oleh anak-anak di perkotaan.

Bagi pelajar dan mahasiswa yang tinggal di perkotaan tentu tidak mengalami persoalan ketika dilakukan pemindahan proses belajar secara online selama pandemi virus korona (Covid-19). Akses serta jaringan bisa didapat di semua lokasi.

Namun hal itu tidak berlaku bagi mereka yang berada di daerah terjauh. Pelajar dan mahasiswa di daerah terisolir terlebih dulu harus berjibaku dan berjuang agar bisa mendapatkan jaringan internet sehingga bisa mengikuti pembelajaran.

Seperti pelajar dan mahasiswa di Kenagarian Galugua Kecamatan Kapur IX Kabupaten Limapuluh Kota yang harus berpacu dengan waktu agar bisa mengudara dan mengikuti PBM online. Nasib mereka sama dengan pelajar dan puluhan mahasiswa di Kecamatan Tigolurah, Kabupaten Solok.

Kesulitan jaringan internet itu dirasakan oleh Debi Kifah Anggela, 23, salah satu mahasiswa dari Kenagarian Galugua. Ia harus bekerja ekstra agar bisa mendapatkan akses jaringan internet agar bisa mengikuti perkuliahan online.

Mahasiswa Jurusan Sistem Informasi STMIK Indonesia Padang itu menceritakan, kalau ia sudah mulai mengikuti proses perkuliahan secara online sejak 13 April 2020.

“Ya, sejak dikeluarkannya keputusan dari pihak kampus untuk meliburkan aktivitas kuliah di kampus dan belajar secara online akibat merebaknya virus Covid-19, saya pulang ke rumah dan mulai kuliah secara online,” jelasnya.

Secara pribadi pembelajaran secara daring bukanlah hal yang baru. Bahkan hampir setiap hari ia lakukan selama di kampus. Namun yang jadi permasalahan saat berada di kampung halaman karena jaringan internet sulit untuk didapatkan.

“Apa pun jenis provider kartunya, maka kalau sudah sampai di sini, sinyal bakal hilang. Jangankan mengakses internet, nelepon pun kadang-kadang susah,” ungkapnya.

Pemuda yang akrab disapa Deby itu melanjutkan, untuk tetap bisa mengikuti pembelajaran secara online, ia bersama para pelajar dan mahasiswa lain harus menempuh jarak sekitar delapan kilometer ke tempat yang ada akses internetnya. “Lokasi tersebut berada di daerah dataran tinggi seperti perbukitan,” tukasnya.

Akan tetapi, tidak hanya jarak yang cukup jauh yang harus ditempuh. Akses menuju lokasi tersebut sangat sulit lantaran berada di dataran tinggi. Belum lagi akses jalan menuju lokasi yang berlubang-lubang sehingga jika tidak fokus sedikit maka risikonya akan tersungkur.

“Hampir setiap hari jalanan yang harus kami lewati berlubang, lumpur, dan berkubang. Ibaratnya kita seperti bertaruh nyawa agar bisa mendapatkan sinyal internet untuk mengikuti pembelajaran online,” tutur Deby.

Ia menjelaskan, saat tiba di lokasi, hanya ada beberapa pepohonan rindang dan satu rumah kayu. Di lokasi tersebut lebih kurang setiap harinya ada sebanyak 10 sampai 20 siswa yang belajar secara online. “Rata-rata kami membawa buku pelajaran, telepon genggam dan laptop untuk membuat tugas atau mengikuti pembelajaran,” jelasnya.
Ditambah lagi jalan yang masih kurang bagus untuk menuju kesana, disaat musim hujan seperti ini.
Kemudian, biasanya para siswa dan mahasiswa mendatangi lokasi tersebut mulai dari pukul 10.00 sampai pukul 16.00. Jika terlalu sore maka suasana semakin gelap karena tidak ada lampu penerangan.

Jaringan internet di lokasi tersebut bisa dikatakan lumayan bagus karena sudah berada dalam format jaringan 4G. Akan tetapi, jika listrik mati dan cuaca menjadi hujan, maka jaringan internet di lokasi itu juga otomatis terganggu bahkan mati.

“Jadi kita juga bergantung pada kondisi alam dan sambungan listrik. Selama baik-baik saja, ya bisa dikatakan jaringan di sini lumayan bagus,” ujarnya.

Para siswa dan mahasiswa pun harus mengerjakan tugas mereka lebih cepat agar tidak keburu malam hari. Pasalnya, pada malam hari tidak ada seorang pun yang berani di lokasi tersebut karena tidak ada penerangan. “Kami harus mengirim tugas yang misalnya harus dikumpulkan pada malam hari, maka kami kirim siang atau sore hari,” ungkapnya.

Deby menambahkan, misalnya lupa untuk membuat tugas dan dirinya sudah pulang ke rumah, maka ia akan menghubungi dosen mengajar untuk diberikan toleransi agar mengumpulkan tugas pada pagi harinya.

“Jadi dari rumah kita berusaha menelepon dosen bahwasanya tugas tidak bisa dikumpulkan pada malam hari lantaran tidak ada sinyal. Beruntung para dosen selama ini sangat perhatian,” jelasnya.

Pastinya dengan segala kesulitan, suka dan duka yang dialami selama mengikuti pembelajaran secara online harus diterima sebagai bagian dalam pembelajaran hidup. “Yang jelas bagi kami di sini, meskipun susah mencari jaringan internet, lokasi jauh dan ekstrem. Selagi masih bisa belajar di sana, maka akan kami tempuh dan lalui dengan semangat,” tukasnya.

Ia pun berharap adanya perhatian dari pemerintah atau instansi terkait terhadap jaringan internet di kampung mereka agar hak untuk mendapatkan pelajaran secara online juga bisa dirasakan. (*)

Belum ada Komentar untuk "Anak-anak di Gelugur Harus "Berkubang Lumpur" untuk Bisa Ikut Belajar Online Karena Sulitnya Mendapatkan Jaringan Internet"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel