Selasa, 07 April 2015

OEMAR BAKRI DARI GALUGUA

Minggu pertama November 2011 lalu, Iwal siap berangkat menuju Desa Galugua. Sega­la­nya sudah disiapkan, se­perti kebu­tuhan pokok untuk ber­tahan hidup diperantauan. Sampai di Desa Sialang Kecamatan Kapur IX, Iwal bertemu dengan rekan-rekannya. Usai istirahat pukul 10.10 mereka kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini mereka melewati hutan, jalan bebatuan yang licin dan menanjak. Desa Galugua terletak di Keca­matan Kapur IX Sumatra Barat. Jarak­nya sekitar 160km dari Limbanang, tempat asal Iwal.  Pukul 05.30, Jaket kulit hitam sudah menutupi tubuhnya yang tegap. Berselang lima menit, kemudian ia menghubungi rekan sesama mengajar untuk janjian berangkat ke lokasi. Iwal mulai mengen­darai sepeda motor. Sesampainya didesa Muaro Paiti, Iwal dan rekannya harus berhenti demi kesela­matan, kali ini cuaca tidak bersahabat. Jalan tanah dan menanjak membuat mereka untuk mengantar sepeda motor satu persatu kepuncak dengan mendorong bersama-sama.
Naswaldi A Ma Pd SD seorang penga­jar di Sekolah Dasar Negeri 02 Desa Galugua Kecamatan Kapur IX Kabupaten Lima Puluh Koto. Ia biasa dipanggil Pak Iwal, sejak 16 ia diangkat sebagai tenaga pengajar di SD ini. Pagi itu ditemani segelas teh, ia ber­cerita tentang tempatnya mengajar. Masih jauh tertinggal, disana hanya meman­faatkan tenaga surya untuk sumber energi. Telekomunikasi jangan ditanya, masih jauh tertinggal. “Hanya jaringan Ceria yang bisa untuk ber­komunikasi” katanya. Rasa haru tak bisa ia sembunyikan ketika diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Walaupun melihat kondisi tem­patnya mengajar seperti itu, hatinya tergerak untuk mening­katkan kualitas dan kuantitas pen­didikan di Desa Galugua. Awalnya ia rasakan suasana ber­beda dengan di rumah yang memang berse­belahan dengan sekolah. Di tempatnya mengajar sekarang seka­rang kekurangan guru agama. Kata Iwal, siswa disana haus dengan pen­didikan. Ada delapan guru yang mengabdi di SD ini, 2 lagi penjaga sekolah, diluar guru honorer.
Tahun 2004 lalu, Iwal lulus dari Se­kolah Menengah Atas (SMA). Setelah lulus belum ada berpikir untuk me­lanjutkan kuliah karena faktor biaya, ia membantu orang tua untuk ber­jualan nasi goreng, lontong sayur dan gorengan di Sekolah Dasar 05 Lim­banang. Jika sore, ia juga berjualan gore­ngan, mie rebus dan kerupuk didepan rumah. Siswa yang jadi pelanggan cukup dekat dengannya. “Ada jiwa pengajar dalam dirinya,” kata Wardati Maran, mantan Kepala Sekolah SD N5. Tidak lama ke­mudian Wardarti mena­warkan Iwal untuk menjadi honorer di sekolah tersebut. Iwal tidak pikir panjang, ia menerima tawaran itu. Juli tahun 2004, ia memulai aktifitas barunya sebagai seorang guru honorer. Meski demikian Iwal tetap membantu orang tua menjaga warung seperti biasa. Awal tahun 2005 lalu, kabar gem­bira muncul setelah kepala sekolah mena­warkan ia untuk melanjutkan sekolah.
Saat itu Universitas Terbuka mem­buka me­nerima mahasiswa baru. Ia memilih jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar. “Untuk biaya gimana buk?” “Jangan dipikirkan, untuk biaya nanti ada saja rezki,” jawab Wardati. Iwal mulai menjalani aktifitas bagaikan air mengalir. Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat, per­tengahan tahun 2008 Iwal menye­lesaikan pendidikan dan wisuda di Jakarta. Setelah menyelesaikan pen­didikan Kepala sekolah tempat ia honor mutasi dan kepala sekolah baru merekomen­da­si­kannya untuk menjadi guru kelas. Perjuangannya tak berhenti begitu saja. Ia melanjutkan pendidikan ke strata satu (S1) PGSD. “Saat ini sudah slesai, menung­gu wisuda bulan Juni tahun ini” katanya.
Kisah Iwal merupakan pelajaran seder­hana, diera teknologi ini menjadi sarana mempermudah untuk me­ngeyam pendi­dikan yang layak. Tapi tidak bagi iwal dan murid-muridnya di Desa Galugua sana. Kini setiap hari Iwal harus menempuh jarak sekin kilo, melewati tebing dan men­daki bukit, belum lagi jika hujan. Kondisi itu ia lalui tanpa beban, karena murid-muridnya senantiasa menunggu dise­buah ruangan kelas kecil di ujung sana. (Oleh Gilang Helindro, Jumat, 29 Juni 2012).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar