Kamis, 04 November 2010

Siapa Walinagari kita yang sebenarnya?

Wiwing Suryani
 Mahasiswa UNP

Siapa Walinagari kita yang sebenarnya?, mung-kin pertanyaan ini sering muncul di masyarakat Muaro Paiti. Menurut pe-ngalaman yang sudah dialami penulis dimana saja tempat bertanya da-lam sebuah organisasi atau instansi adalah ke-pada seorang ketua. 
      Begitu juga tempat bertanya disebuah nagari tentu kepada walinagari, bukan kepada yang lain (selagi masih bisa pak wali dihubungi, manga pulo ka nan lain minta pandapat. Ketua kan lebih pas tampek batanyo ).
      Mhhhmm, kenapa ketika kami hendak berbuat baik untuk kepentingan bersama semuanya jadi permasalahan?. Permasalahan yang kecil dibesar-besarkan. “Kepada siapa kalian minta izin?”.
 Ini pertanyaan yang muncul, ketika HIMAPEMUPA mengadakan kegiatan sosial kemanusiaan, yaitu minta sumbangan buat disalurkan ke saudara kita yang ditimpa musibah di kepulauan Mentawai.
Walinagari tempat kami minta izin. Kami bergerak dan berbuat juga setelah dapat izin dari pak wali, bukan ke sembarang orang saja kami minta izin. Karena kami tahu prosedur dan mekanisme izin di nagari awak (jan khawatir polu lai). Lalu, apa yang jadi permasalahan?.
       Oh, semua karyawan atau petugas kantor wali-nagari tidak tahu, itu bukan sesuatu yang perlu di-besar-besarkan. Tapi sesuatu yang harus diperbaiki dalam mekanisme komunikasi petugas kantor walina-gari tentunya. Bukan orang lain yang harus disalah-kan, tapi bak kecek ulama: introveksilah diri sendiri. Jan salah kan urang lain, mano tau urang tu labiah elok dari pado awak. Jan sampai bakareh angok pulo surang. Karena kami lai tau pulo jo aturan nan dipakai nyo.
      Yang kami buat dan lakukan juga bukan kegiatan yang negatif, tetapi bermanfaat bagi orang banyak yang lagi membutuhkan. Mengapa itu pula yang harus jadi masalah?
“Dek kami ketek baru baraja tantu banyak nan salah. Tapi tulah guno nyo kami baraja dan batanyo ka nan gadang”. Bukan manyalahkan, tapi tunjuakkan kami ka nan elok, nak yo bisa samo-samo mambangun kampung awak. Dek mako itulah kami kalau kabuek acara minta pandapek ka urang nan kami tuo kan dikampuang. Eh, berharap dapek nan dihati, tapi apo hasil nan ditarimo? Tapi, bialah yang jaleh awak ba-buek berdasarkan ilmu.*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar