Selasa, 13 April 2010

Siapa yang Peduli Pelajar

PERNAH teman saya, Mardison, dosen IAIN Imam Bonjol Padang bertanya pada saya, “Berapa ka-mu dibayar membuat buletin ini?”.
”Mereka berencana bayar saya mahal, tapi sayangnya mereka tidak ada duit”, jawab saya sambil tertawa.
Saya lalu bercerita padanya. Kampung saya itu kaya, Penda-patan Asli Nagari (PAN) nya juga besar. Dari natura gambir saja tiap minggu jutaan rupiah menga-lir ke kas nagari. Anggaran dan pembagiannya pun rata, sebut saja untuk PKK, Karang Taruna dan lain-lain.
Mulai dari buat uang ini sampai buat uang itu. Mulai dari dana pe-ngeluaran wajib sampai buat dana yang tak terduga. Katanya se-mua itu telah diatur.
Sayangnya, dari banyak pe-ngeluaran itu tidak ada sedikitpun dianggarkan buat organisasi pe-lajar. Aneh bukan?. Padahal bu-kankah pelajar adalah masa de-pan?. Bukankah orang bilang pe-lajar adalah ujung tombak sebuah nagari. Maju atau mundurnya na-gari dimasa yang akan datang di-tentukan oleh pelajar dimasa kini.
Memang, saat ini saya bu-kan pelajar lagi. Kalau boleh sedi-kit lebai, saya saat ini sudah sa-ngat sibuk dengan urusan peker-jaan saya. Tapi saya tetap me-luangkan sedikit waktu untuk ber-kumpul dengan adik-adik pelajar. Karena saya cinta dunia pelajar. Dari masa saya masih jadi pe-lajar hingga saat ini, belum pernah saya mendengar pihak nagari ber-tanya; “Apakah pelajar ada dana?” atau “Darimana kalian dapat uang cetak buletin ini?”. Belum pernah! Atau apakah memang tidak akan pernah?.
Teman saya tadi hanya heran saja mendengar cerita saya ini.
Tapi memang begitulah adanya.
*Penulis sekarang bekerja
di koran Singgalang, Padang



1 komentar:

  1. memang apa yg saudara ungkapkan dibuletin ini benar adanya sampai saaat sekarang ini.Saya juga ikut prihatin dg keadaan pelajar terutama di negeri kapur9.bagaimana tidak,keprihatin saya tersebut mudah saja dilihat dikalangan pelajar kapur9 terutama ketika dijalan raya dan warung-warung ( baik siang ataupun malam hari ).sewaktu dijalan raya etika pelajar tidak ada terlihat pada adik2 pelajar kapur9,dg kata lain seenak perut mereka bahkan kitalah yg harus2 hati2 ketika berada dijalan raya untuk waspadai kecelakaan dg para pelajar.Dan yg membuat bati kita miris ketika melihat pelajar2 tersebut duduk diwarung2 kopi,tak ubahnya seperti orang2 dewasa,mereka duduk berkumpul sambil merokok2,bahkan ada yg meneguk minuman yg belum pantas untuk dikomsumsinya.masyaa allah...dg keadaan seperti ini apakah pantas kita berharap dihari depan nanti negeri kapur9 mengalami kemajuan?kemungkinan besar tidak.

    BalasHapus