Selasa, 09 Maret 2010

Pemberdayaan Itu butuh Kebesaran hati

Hendtikan tuding menuding dalam masalah PNPM
Dibeberapa daerah menunjukkan pembangunan partisipatif me-nimbulkan kemajuan di daerah, karena pembangunan tidak hanya pada sarana dan prasarana tetapi juga pembangunan kapasitas manusia di desa atau di nagari.
PNPM MP(Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) adalah program pembangunan partisipatif untuk pemberdayaan masyarakat. Program ini dilaksanalan secara masal hingga pada tahun 2009, PNPM mandiri pedesaan mencakup 4.193 kecama-tan di 364 kabupaten dalam 32 provinsi,(berdasarkan data Unit Managemen System PNPM). Ini merupakan sebuah mekanisme yang di atur untuk mempercepat upaya penanggulangan kemis-kinan dan perluasan kesempatan kerja.
Disini masyarakat diajak untuk terlibat dalam setiap tahapan kegiatan secara partisipatif, mulai dari proses perencanaan, pe-ngambilan keputusan dalam pembangunan dan pengelolaan dana sesuai dengan kebutuhan paling prioritas di desa (jorong), sampai pada penyelesaian kegiatan dan pelestariannya. Namun pelaksa-naan program ini bukannya tanpa masalah, banyak masalah di masyarakat tumbuh ketika masyarakat sudah terbiasa dengan pola pembangunan yang sebelumnya.
Dari pengalaman di beberapa penelitian yang telah penulis lakukan di dua kabupaten di Sumatera Baarat menunjukkan sebuah fenomena bahwa elit-elit nagari (desa) seperti pamong desa dan penentu keputusan lainnya masih berusaha untuk mendominasi semua proses tersebut. Dampaknya disini adalah harapan untuk keterlibatan masyarakat sasaran (yaitu masyarakat miskin, perempuan, dan masyarakat yang termarginal lainnya) tidak dapat terwujud dengan maksimal.
Persoalan ini juga terjadi di Kapur Sembilan bahkan juga di Nagari Muaro Paiti. Inti yang diinginkan oleh PNPM belum sepe-nuhnya dimahami oleh semua pihak. Sehingga mekanisme yang telah diatur oleh PNPM di PTO nya yang merupakan kitab dari pelaksana program sering dilanggar dan diakali dengan pembua-tan berita acara fiktif dan memotongan mekanisme pelaksanaan program. Memang mekanisme dan aturan ini di buat dengan ba-nyak tahap sehingga masyarakat bosan terutama pada masyara-kat pragmatis (yang mengutamakan keuntungan sesaat). PNPM memang menginginkan sebuah keswadayaan masyarakat de-ngan sasaran membangun masyarakat dengan potensi masyara-kat itu sendiri. Dana yang dikucurkan rata-rata 3 M ditiap kecama-tan hanya bersifat stimulan(peransang) untuk masyarakat supaya bisa melaksanakan pembangunan dengan mandiri keesokan harinya.
PNPM tidak mengajarkan masyarakat untuk tergantung de-ngan dana yang sedikit itu, tetapi kenyataan dilapangan sangat berbeda. Ketika sebuah perencanaan di Nagari sudah matang dan tiba tiba tidak terdanai di PNPM karena tidak mendapat prio-ritas utama. Saling tuding-menuding pun muncul, tudingan pada wakil yang diutus bermunculan, sedangkan pada awalnya sepakat mempercayai delegasi yang diutus untuk berjuang. Ada gagal dan ada yang berhasil itu adalah sebuah konsekuensi sebuah kompe-tisi dan kita harus terima dengan lapang dada. Tidak seharusnya kegiatan yang telah terencana sebelumnya di batalkan. Kegiatan yang diusulkan di Nagari Muaro Paiti tidak sepenuhnya gagal, TPK, bekerja sama dengan Pihak Nagari dan Potensi-Potensi yang ada diNagari seharusnya tetap membangun jalan yang telah diusulkan. Tunjukkan Muaro Paiti mampu untuk mandiri. Inilah sebenarnya roh dari PNPM, yang mementingkan kemandirian masyarakat. Hentikan tuding-menuding di Nagari karena akan merusak pribadi masing masing. (Ikhsan MP)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar