Selasa, 08 Desember 2009

Pembangunan Objek Wisata limapuluh Kota , Perlu Sentuhan Tangan Terampil

Limapuluh Kota,
Pembangunan objek wisata di Kabupaten Limapuluh Kota, perlu sentuhan tangan terampil, terutama dalam pengembangan potensi objek wisata sejarah dan relegius.“Khusus wisata sejarah saat ini terdapat 51 situs purbakala yang memerlukan tangan terampil sehingga menjadi objek wisata tersendiri di daerah ini. Sebagai pendukungnya, lapangan ter bang Piobang bisa dibuka kembali, sehingga pintu masuk ke Sumbar itu tidak hanya Teluk Bayur dan BIM saja,” kata Bupati Amri Darwis.
Bupati menyampaikan hal itu pada Tim Asisten Deputi Urusan Pemberdayaan UM KM dan Industri Pariwisata saat mengunjungi Kabupaten Limapuluh Kota, Jumat (4/12) di rumah dinas bupati.
Dalam kungker yang dipimpin DR.Hamdan tersebut, Amri Darwis, juga menyampaikan potensi kepariwisataan dan UMKM di daerahnya yang memang memerlukan sentuhan untuk pengembangan.
Sesuai dengan perkembangan perekonomian dunia yang mengarah ke Timur (China) tahun mendatang diperkirakan tumbuh 10 persen, sementara pertumbuhan ekonomi Sumatra Barat juga bergerak ke Timur (Riau) yang merupakan daerah pertumbuhan yang sekaligus tetangga Limapuluh Kota, sehingga sangat tepat pembukaan Piobang International (PIA) sebagai salah satu gerbang Sumatra Barat yang langsung menyentuh daerah pedalaman Sumatra sekaligus akses ke dunia International.
Dalam kesempatan yang sama ketua tim DR. Hamdan.,MSi menyampaikan, perlu membangun kesepahaman dan sinergisitas antara stakeholder lainnya dalam pengembangan industri dan pariwisata. Sebab satu kemustahilan pengembangan pariwisata itu diserahkan ke dinas pariwisata saja, sebab pengembangan pariwisata itu menyangkut semua aspek, kata Hamdan.
Sejalan dengan itu Erwin Darizal, salah seorang anggota tim asal Aia Tabik-Payakumbuh, mengingatkan, yang sering terlupakan pemahaman masyarakat bahwa wisatawan mancanegara (Wisman) itu adalah sawah ladang kita.
Sangat perlu dipelihara, dipupuk, dijaga, dimanjakan sehingga tidak ada kecemasan kemanapun mereka tidak khawatir seperti yang dilakukan Thailand. “Apalagi Harau dinilai satu objek wisata unik di dunia, karena jenis wisata apapun bisa dilakukan di daerah itu”.
Dijelaskan, meskipun Riau daratan memiliki 15 pintu masuk namun tidak bisa dihandalkan di bidang kepariwisataannya, sementara persoalan kepariwisatawan Sumbar pergerakan Wismannya hanya di Sumatra Barat tidak ada pergerakan dari provinsi lain ke Sumbar.
Lain halnya di pulau Jawa pergerakannya didukung dari provinsi lain.
Kunjungan bernuansa jemput bola dari tim deputi UKM dan industri pariwisata itu dihadiri instansi terkait yang ikut memberikan masukan kepada tim sehingga kebijakan pengembangan kepariwisataan dan UMKM di daerah ini sesuai dengan kondisi yang ada, justru itulah bupati dalam kesempatan itu meminta rekomendasi tim tentang langkah yang harus dilakukan dalam mewujudkan kebutuhan itu.
Dalam dialog yang banyak memberikan input untuk dijadikan kebijakan daerah maupun nasional juga disampaikan anggota tim lainnya seperi, Agustanto dari Direktorat Pekerjaan Umum yang menegaskan, pengelolaan kepariwisataan tidak bisa dilepaskan dari tata ruang yang perlu direncanakan sedemikian rupa, sehingga ada akselerasi antara konsep kawasan dengan pengembangan kepariwisataan itu sendiri.
(Sumber: Harian Singgalang)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar