Selasa, 22 Desember 2009

Ke Pusat Kecamatan Keluarkan Ongkos Rp80.000

Nasib Warga Gelugur
KAPAN Gelugur akan nyaman dilalui kendaraan roda empat. Jawaban pertanyaan itu sepertinya sudah lama ada yang jawabannya hingga kini masih dinanti masyarakat terujung di Kabupaten Limapuluh Kota itu.
Kalaupun sudah ada jalan, namun akses perhubungan itu hanya leluasa dilewati ketika musim kemarau. Bila musim hujan, bisa dipastikan nagari itu nyaris terisolasi dan hanya bisa ditempuh mobil doble gardan seperti jenis Hartop atau Taff. Sebab, permukaan jalan ke nagari sentra produksi gambir di Kecamatan Kapur IX itu baru berupa pengerasan kerekel yang nyaris tinggal tanah.
Tak heran, setiap kali Nenan dikunjungi pejabat, warga setempat tak pernah lupa berkeluh kesah dan berharap jalan ke nagarinya ditingkatkan. Melihat faktanya, persoalan memang kebutuhan yang amat sangat vital dan mendesak bagi nagari yang terdiri dari empat jorong yang didiami sekitar 4.000 jiwa penduduk.
“Kami betul-betul merasa kurang beruntung. Buat mencapai ibu Kecamatan Muaro Paiti yang hanya berjarak sekitar 36 km saja, kami harus membayar Rp80.000/orang pulang pergi. Begitu juga ongkos angkut gambir ke Nagari tetangga Sialang yang hanya berjarak sekitar 24 km, kami mesti merongoh kocek Rp600 setiap kg-nya,” ungkap Walinagari Gelugur, Kecamatan Kapur IX Sukri, 46, dengan nada memelas.
Bukan cengeng, kenyataannya jalan ke Gelugur memang masih jauh dari kata layak tempuh. Dari sekitar 24 km rentang jalan dari Sialang ke pusat Nagari Gelugur, hanya beberapa tempat saja yang sudah mendapatkan perkerasan aspal beton. Selebihnya, masih berupa tanah yang senantiasa berobah menjadi kubangan setiap kali datang hujan lebat.
Gelugur benar-benar butuh jalan beraspal, setidaknya untuk sejumlah tanjakan tajam seperti di perbukitan Batu Sampik, Simpang Duo, Sungai Batang Dondan, pendakian Gambia Ipul dan sejumlah titik lainnya. Sebab, lokasi tersebut sangat sulit dilewati sekalipun dengan mobil doble gardan.
“Dengan kenyataan sulitnya transportasi tersebut, kami harus rela kehilangan Rp600/kg dari sebanyak 10 ton gambir yang keluar dari Gelugur setiap minggunya. Selain kehilangan puluhan juta rupiah dari nilai jual gambir setiap bulannya, akibat sulit dan mahalnya biaya transportasi, menjadikan tamatan SLTP di nagari kami tak sedikit yang putus sekolah,” papar Sukri.
Gelugur amat sangat merindukan jalan beraspal. Untuk mewujutkan jalan yang laik, Gelugur berharap masyarakat nagari lain di Limapuluh Kota mau mengalah untuk nagari yang berbatasan langsung dengan Rokan Hulu Riau dan Kabupaten Pasaman Timur. Sehingga, Gelugur mendapat prioritas pengalokasian pembangunan fisik.
Kalau saja jalan Gelugur lebih bagus dari sekarang, masyarakatnya optimis nagari itu akan terus menggeliat.
Tak hanya memiliki kebun gambir dan karet yang relatif luas, nagari ini juga memiliki potensi pertambangan seperti batubara.
Namun, belum lagi keluh kesah terjawab, kini Gelugur juga mendera ancaman kehilangan sejumlah jembatan, karena sejak musim hujan beberapa waktu belakangan sarana penyeberangan di berbagai jorong di nagari ini rusak ringan hingga berat.
(hendri gunawan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar